![]() |
| Gelar wicara 100 tahun A.A. Navis: Membaca bersama (Sumber Foto: Salwa) |
Ruangwicara.com, Bintan - Lestarinya sastra dan budaya Indonesia membuat banyak sastrawan menciptakan beragam cerpen dan karya sastra untuk mengajak generasi muda mencintai literasi.
Terbitnya karya Surau Kami, A.A. Navis Dalam Bentangan Sastra Indonesia ini menunjukkan kilas balik dari kemerdekaan Indonesia. Unsur-unsur daerah dalam balai pustaka tidak boleh ada pada masa itu, sehingga ejaan yang digunakan ialah ejaan belanda, ejaan OE.
Politikus Sastra Kepulauan Riau Maman S. Mahayana kepada peserta mengatakan, karya robohnya surau kami penting, karena membahas keseimbangan antara urusan duniawi dan akhirat, mampu memahami agama supaya tidak hitam putih, toleransi menyeimbangkan peribadatan, dan nilai-nilai dasar dalam hidup.
Balai pustaka menjadi lembaga yang melestarikan bahasa melayu terpelajar, bahasa standar, dan bahasa melayu ber-eja. Rekam jejak A.A. Navis dalam dunia sastra menjadikan kita mampu untuk membuat rekam jejak yang berkualitas.
Gelar wicara ini berlangsung interaktif, dengan sesi tanya-jawab yang membuka kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan wawasan lebih dalam tentang dunia sastra. Acara ditutup dengan harapan agar peserta dapat menerapkan ilmu yang didapat dan memanfaatkan peluang yang ada untuk meraih kesuksesan di bidang sastrawan.


!doctype>
0 Komentar