Advertisement

Cerita Lebaranku : Seragam Boleh Terlambat, Tapi Kebahagiaan Tetap Lengkap

 

Keluarga Jumalisa Mahda Pada Hari Raya Idul Fitri 2025

    Ruangwicara.com, Bintan - Apa sih yang dinantikan umat muslim setelah berakhirnya bulan Ramadhan? Iya, 1 Syawal, yaitu menyambut Hari Raya Idulfitri, biasa kita menyebutnya dengan lebaran. Semua umat muslim merayakannya, tapi ada yang merayakannya dengan berbagai suasana berbeda. Momen lebaran selalu dinantikan oleh orang-orang untuk berkumpul dengan keluarga dan sanak saudaranya, menjalin dan memperkuat silaturrahim diantara mereka.

    Salah satu dari banyaknya hal yang aku syukuri saat ini adalah ketika Allah mengizinkan dan mempertemukan aku dan keluarga dibulan Ramadhan dan merayakan lebaran bersama-sama. Kalau bicara tentang lebaran, aku baru sadar, ternyata setiap lebaran aku selalu merayakannya bersama orang tercinta. Siapa lagi kalau bukan orangtua. Alhamdulillah, dan itu juga merupakan salah satu hal yang aku syukuri, bisa merayakan lebaran bersama orangtua.

    Sebenarnya ada satu hal yang terlintas dipikirkanku. Jadi gini, setiap lebaran, lebih tepatnya shalat    Idulfitri, itu aku dan keluarga selalu melaksanakannya dikampung halaman bapakku, padahal kampung bapakku dan mamakku itu tidak terlalu jauh lho, mungkin sekitaran 20 menitan untuk sampai kesana. Ya, tapi memang kami tinggalnya dikampung bapakku sih. Tapi why? Mamakku sering mengajak untuk sholat eid di kampungnya, tapi aku dan juga abangku sering kali menolaknya. Kenapa ya rasanya berbeda dan enggan ketika sholat ditempat lain, lebih tepatnya sih karena kami sudah terbiasa dari tahun ke tahun sholat dikampung bapakku. Tapi setelahnya kami tetap berkunjung kok ke kampung halaman mamak, apalagi sanak saudara mamak banyak sekali disana. Satu lagi, pasti ni kalau pulang kekampung mamak, tempat yang menjadi target untuk berkunjung itu banyak sekali, sampai-sampai aku selalu tidak ikut untuk kesana. Ah, tapi rasanya kalau udah pulang kampung mamakku itu, kenyang sekali perut kalau udah masuk ketupat dan berbagai lauk yang dihidangkan, apalagi kalau ada udang, cumi, oh itu sangat menyenangkan sekali.

    Tahun 2025 ini kami lebarannya di Tanjungpinang. Iya, beberapa tahun ini kami sudah menetap disini. Rasanya tetap sama, cuma minusnya vibes lebaran di kampung dan kota itu sangat berbeda ya, apalagi tidak bisa berkunjung kerumah saudara. Oh Tuhan, apalagi baju lebaran aku dan mamak itu sampainya udah lebaran ke-5, jadi pas lebaran pertama itu kami tidak seragam warna bajunya. Alhasil aku dan mamak pakai baju lebaran beberapa tahun yang lalu. Tapi it’s oke, itu tidak mengurangi rasa bahagia kami di hari lebaran kok. Mungkin agak kecewa dikit ya, dikit aja ni tapi, soalnyakan pengen banget seragaman sekeluarga.

    Momen sungkeman ke orangtua menjadi salah satu hal yang wajib bagi setiap orang. Momen dimana kita memohon maaf atas segala silaf dan salah yang telah kita lakukan. Momen ini biasanya dihiasi dengan suasana yang serius yang penuh tangis dan penyesalan didalamnya. Tapi berbeda denganku. Aku adalah orang yang paling jarang nangis didepan orangtua, tapi ketika melihat orang lain nangis, aku adalah orang yang paling terbawa suasana dan malahan ikut menangis. Maka dari itu, setiap sungkeman ke orangtua, sebisa mungkin aku harus membuat suasananya diisi dengan canda dan gurauan, supaya nggak ikutan nangis juga. Well, hal itu selalu berhasil aku lakukan. Tapi bukan berarti aku tidak serius ya dalam meminta maaf ke orangtuaku. Karena menurutku keseriusan kita meminta maaf ke orangtua tidak diukur melalui sebanyak apa air mata yang jatuh, tapi seberapa besar rasa salah kita dan niat kita untuk meminta maaf.

    Dan terakhir, semoga Allah mempertemukan kita pada bulan Ramadhan dan Hari Raya Idulfitri tahun depan, juga seterusnya. Pun semoga kita diberi umur panjang untuk bisa merayakan Idulfitri bersama orangtua dan orang-orang tercinta. Aamiin...

Mohon maaf lahir dan batin everyone.

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum.


Penulis : Jumalisa Mahda

Posting Komentar

0 Komentar