Ruangwicara.com, Bintan - Kita hidup di dunia yang penuh definisi. Termasuk soal
cantik. Entah sejak kapan persisnya, tapi standar kecantikan perempuan sudah
lama ada dan terus berkembang. Mungkin dulu kita cuma dengar dari tetangga atau
majalah. Sekarang? Cukup scroll Instagram atau TikTok lima menit aja, kita
langsung disodori gambaran kulit harus mulus, badan ideal, alis on fleek, dan
pipi tirus. Lengkap dengan daftar produk perawatan yang harus dimiliki biar
bisa dibilang “glow up”.
Tren ini seolah nggak ada habisnya. Bahkan seringkali bikin
kita lupa bahwa setiap orang itu unik. Kita disuguhi iklan dan influencer yang
bilang: “Kalau kamu pakai produk ini, kamu bisa secantik dia.” Padahal, ya
jelas nggak bisa disamain. Kita semua punya bentuk wajah yang beda, warna kulit
yang beda, dan jenis rambut yang beda juga. Tapi karena saking seringnya
dijejali standar itu, tanpa sadar kita mulai merasa ada yang “kurang” dari diri
kita.
Lalu muncul sebuah arus baru yang katanya jadi penyeimbang
dari semua tuntutan itu: self-love. Cintai diri sendiri, terima dirimu apa
adanya, kamu cukup, kamu berharga dan kalimat-kalimat sejenis lainnya. Awalnya,
ini terasa menenangkan. Kaya dipeluk setelah capek banget berlari ngejar
ekspektasi. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai bertanya: “Apa iya
self-love itu selalu benar? Nggak bisa salah?”
Soalnya, semakin ke sini, definisi mencintai diri sendiri
itu makin luas. Kadang sampai kelewat batas. Ada yang bilang, “Ini tubuhku,
hakku sepenuhnya.” Lalu mulai melakukan berbagai hal atas nama cinta diri.
Mulai dari perubahan ekstrem, gaya hidup bebas, sampai keputusan yang mungkin
dulunya dianggap nggak wajar, tapi sekarang dibungkus rapi dalam kata “bebas
mengekspresikan diri”.
Padahal, coba deh kita renungkan sebentar. Emang benar kita
nggak bisa milih lahir dengan bola mata warna apa, bentuk hidung kayak gimana,
atau kulit secerah apa. Itu semua murni pemberian Allah, dan justru karena itu,
kita nggak akan ditanya di akhirat nanti soal penampilan lahiriah kita. Tapi…
yang akan ditanya adalah: “Sudahkah kita bersyukur dengan apa yang Allah
kasih?” Dan lebih dari itu, “Sudahkah kita menjaga dan mengoptimalkan pemberian
itu dengan cara yang baik?”
Kalau rasa cinta terhadap diri berubah jadi bentuk
pembenaran untuk melakukan apa aja, bukankah itu jadi semacam bentuk
kesombongan yang halus? Kita merasa berhak sepenuhnya atas tubuh ini, padahal
hakikatnya, semua ini milik Allah. Kita cuma dititipi. Dan sebagai manusia, ada
batas yang nggak boleh dilanggar. Bukan karena Allah nggak membebaskan kita,
tapi justru karena Allah sayang. Dia kasih batasan supaya kita nggak tersesat
dalam kebebasan yang ternyata bisa menyesatkan.
Allah, dalam segala kasih sayang-Nya, udah kasih panduan
hidup yang jelas. Standar utama kita bukanlah menjadi cantik menurut dunia,
tapi menjadi pribadi yang diridhai-Nya. Itu yang seharusnya jadi tujuan hidup
kita. Karena kalau kita cuma terus ngejar pengakuan dari manusia, percaya deh,
itu capek. Standar manusia berubah-ubah, sedangkan ridha Allah itu tetap. Nggak
perlu filter, nggak perlu skincare mahal. Yang penting hati kita bersih, niat
kita lurus.
Sebagai muslim, kita diajak buat nggak larut dalam
pembenaran-pembenaran atas nama kebebasan. Bukan berarti kita nggak boleh punya
gaya sendiri, atau nggak boleh merawat diri. Boleh banget! Bahkan dalam Islam,
kebersihan dan kerapihan itu dianjurkan. Tapi semuanya kembali ke niat. Apakah
ini bentuk syukur, atau bentuk hasrat untuk memenuhi standar dunia yang
menyesatkan?
Jadi, mencintai diri itu memang penting. Tapi cinta yang sehat, cinta yang tahu batas, dan cinta yang menjadikan kita lebih rendah hati, bukan lebih tinggi hati. Karena pada akhirnya, mencintai diri bukan tentang menjadi versi terbaik menurut orang lain, tapi menjadi versi terbaik menurut Allah.
Penulis : Jumalisa Mahda

!doctype>
0 Komentar