Ruangwicara.com, Bintan - Mengenali dan memahami seseorang dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah dengan mempelajari ilmu psikologi. Psikologi merupakan sebuah gabungan antara 2 kata yaitu psiko dan logi, psiko yang berarti kejiwaan dan logi yang bermakna ilmu. Sehingga dapat kita disimpulkan bahwasannya psikologi adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan, perilaku, kebiasaan suatu manusia. Dengan mempelajari cabang ilmu psikologi ini, kita dapat memahami secara lebih dalam mengenai bagaimana manusia itu sebenarnya, mulai dari sifatnya, perilakunya, dam kejiwaannya.
Pada dasarnya manusia itu diciptakan dalam keadaan fithrah, tinggal
bagaimana dia beradaptasi dan mengenali lingkungannya untuk dapat menjadi
manusia yang selayaknya. Membahas mengenai kejiwaan, maka akan berkaitan dengan
karakteristik seseorang yang dapat kita ketahui melalui jiwanya. Para Psikolog
umum berbeda-beda pendapat dalam memandang aspek kejiwaan manusia, yang secara
umum setidaknya terangkum dalam tiga aliran psikologi, yaitu psikoanalisa,
behaviourisme dan humanisme. Aliran psikoanalisa memandang bahwa kejiwaan
manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu id (dorongan-dorongan biologis), ego
(kesadaran terhadap realitas (kehidupan) dan superego (kesadaran normative).
Ketiganya saling berinteraksi satu sama lain dan masing-masing memiliki fungsi
dan mekanisme yang berbeda.
Adapun penjelasan mengenai tiga unsur dalam aliran psikonalisa tentang
kejiwaan, penulis mengutip dari jurnal “Asfek-Asfek Kejiwaan Dan Motivasi
Manusia Dalam Konsepsi Islam” oleh Ratnawati yang mana mengatakan Yang
terkandung dalam id adalah berbagai potensi yang terbawa sejak lahir,
instink-instink dan nafsu-nafsu primer, sumber energy psikis yang member daya
ego dan superego untuk menjalankan fungsi-fungsinya. Pada id berlaku prinsip
kenikmatan untuk segera dipenuhi pemuasannya serta senantiasa menghindari
hal-hal yang tak menyenangkan. Id yang berorientasi pada kenikamtan itu
sepenuhnya terletak di alam tak sadar.
Selanjutnya ego berfungsi merealisasikan kebutuhan-kebutuhan id dengan
jalan memilih bentuk pemuasan kenikmatan yang benar-benar ada dan tersedia, dan
caranya pun dapat diterima dan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Dengan
demikian pada system ego berlaku system realitas. Ego bertempat pada alam
sadar, tetapi sebagian dalam alam pra sadar sebagai unsur-unsur laten yang
sewaktu-waktu dapat diingat kembali.
Adapun superego berkembang dari ego, karena ego yang dalam fungsi memenuhi secara realitas dorongan-dorongan id yang mau tak mau harus mempertimbangkan tuntunan etis normative lingkungan. Kontak dengan lingkungan dan norma-norma inilah yang mengembangkan superego. Superego menuntut kesempurnaan dan idealitas perilaku dengan ketaatan terhadap normanorma lingkungan dengan tolak ukurnya, sehingga dapat dikatakan bahwa pada superego berlaku sistem idealitas.
Membahas dari sisi psikologinya, bagaimana cara agar dapat memahami
kejiwaan seseorang melalui pendekatan psikologisnya. Perlu kita ketahui
bahwasannya psikologi sangat erat kaitannya dengan kejiwaan, dapat dilihat
dengan jelas ketika kondisi kejiwaan seseorang sedang terganggu atau sedang
merasa tidak baik-baik saja. Adapun cara untuk kita mengetahui kejiwaan
seseorang dengan pendekatan psikologis adalah sebagai berikut :
1. Perhatikan gaya bicara, nada, serta pemilihan kata.
Ketika seseorang sedang merasa terganggu kejiwaannya, bisa kita lihat
secara langsung mulai dari cara berbicaranya yang cenderung cepat intonasinya
dan juga terlihat ketakukan atau gugup, nada bicaranya jga cenderung akan cepat
serta akan menjadi gagap, lalu pemilihan kata yang cenderung akan
berputar-putar disatu pembahasan saja.
2. Lihat kontak matanya.
Pergerakan mata seseorang ketika kejiwaannya sedang terganggu cenderung
tidak berani menatap lawan bicaranya, dia akan melihat serta fokus kepada
lingkungan sekitarnya untuk mengalihkan penglihatannya supaya tidak terkesan
gugup.
3. Amati cara berpakaian dan penampilan.
Orang yang kejiwaannya terganggu cenderung tidak peduli dengan gaya
berpakaian dan penampilannya, orang tersebut akan memakai sesuai dengan kondisi
diri yang sedang dialaminya, yang mungkin saja terlihat tidak rapi atau malah
berpakaian rapi tetapi untuk menutupi kondisi kejiwaannya.
4. Perhatikan tindakannya pada situasi tertentu.
Tindakan dan gerak gerik seseorang yang sedang terganggu kejiwaannya
akan terlihat sangat jelas, biasanya orang tersebut tidak akan bisa diam dan
akan sibuk dengan dirinya sendiri yang bertujuan untuk menutupi rasa cemas
serta ketakukannya.
5. Mengamati ekspresi wajahnya.
Ekspresi wajah seseorang yang terganggu secara kejiwaannya cenderung
tidak bisa ditutupin karena itu merupakan sebuah pengekspresian diri yang
diperlihatkan melalui wajah, seperti pandangan yang layu, kontak mata yang
tidak terkendali, keringat dingin, dan terlihat kepanikan diwajahnya.
Pendekatan psikologis diatas dapat kita sandingkan dengan komunikasi
yang akan membuatnya menjadi lebih mudah dan to the point. Jika dalam
pendekatan psikologis hanya mengamati, maka jika digabungkan dengan komunikasi
dapat menjadi sebuah pendekatan secara individual atau bahasa lainnya adalah
interpersonal. Komunikasi interpersonal membuat kita mudah untuk memahami
kejiwaan seseorang karena kita akan berinteraksi secara langsung, sehingga
minim untuk terjadi miss informasi yang diakibatkan hanya sekedar mengamati dan
melihat saja. Terdapat beberapa cara komunikasi interpersonal yang dapat
dilakukan untuk mengenali kejiwaan seseorang, antara lain :
1. Menjalin hubungan baik dengan orang tersebut.
Sebelum kita ingin mengetahui lebih dalam
tentang seseorang, alangkah baiknya menjalin hubungan yang baik terlebih dahulu
sehingga orang tersebut akan nyaman dan menjadi terbuka dengan kondisi yang
sedang dialaminya. Mulai dari sering mengobrol, mendekatkan diri, sering
melakukan kegiatan bersama, dan saling berbagi cerita.
2. Memberikan motivasi, saran, dan dukungan.
Cara paling jitu jika terkait dengan
komunikasi adalah bagaimana agar bisa memotivasi, memberikan saran, dan
dukungan kepada orang yang ingin kita kenali kejiwaannya. Dengan memberikan
sebuah kata-kata yang bagus orang tersebut pasti akan terbuka dan kita juga
menjadi lebih mudah untuk memahami kondisi kejiwaanya lebih dalam tentang
masalah apa yang sedang dihadapinya.
3. Tidak menjudge, serta bukan mengkritik.
Terkadang kita sebagai
seseorang yang ingin mengenali kejiwaan orang lain merasa bahwa apa yang
dialami oleh seseorang tersebut adalah masalah yang sepele dan mudah bagi diri
kita untuk menyelesaikannya, padahal kapasitas seseorang untuk menangani serta
menerima beban kejiwaan itu berbeda-beda. Jika menerapkan pendekatan secara
psikologis komunikasi dengan interpersonal maka, tugas kita mendengarkan dan
memberikan saran serta motivasi supaya orang tersebut bangkit dan pulih dari
kondisi kejiwaan yang sedang dialaminya.


!doctype>
0 Komentar