Sekumpulan Pemuda Dusun 1 Parit Pacitan Selesai Sholat Eid
Tanjungpinang, Ruangwicara.com - Setelah sekian lama merantau, meniti langkah di tanah orang untuk mengejar asa dan cita, akhirnya tiba juga waktu yang paling dinanti, waktu untuk pulang. Pulang bukan sekadar kembali ke titik awal perjalanan, tapi pulang ke pelukan hangat kampung halaman, tempat hati selalu rindu untuk kembali.
Suasana kampung yang tenang dan
bersahaja seolah tak banyak berubah. Jalanan kecil yang dulu sering dilalui,
aroma tanah basah seusai hujan, hingga suara ayam berkokok di pagi hari—semua
membawa kenangan masa kecil berlarian dalam ingatan. Tapi yang paling
menggetarkan adalah ketika gema takbir mulai terdengar, merambat hingga ke
penjuru desa, menyapa setiap hati yang rindu akan suasana Lebaran di kampung
tercinta.
Pagi raya menyambut dengan syahdu.
Langit bersih, angin sejuk berembus pelan, dan suara takbir bergema
menggetarkan dada. Warga kampung berbondong-bondong menuju masjid, tempat
sholat Idul fitri digelar. Di sana, wajah-wajah penuh rindu saling bersapa,
tangan-tangan yang lama tak bersentuh kini erat berjabatan, dan mata-mata yang
sempat basah oleh jarak kini berbinar oleh pertemuan.
Anak-anak berlarian dengan pakaian
baru, membawa tawa dan semangat khas lebaran. Sementara itu, para orang tua
menyambut kepulangan anak-anak mereka dengan pelukan yang penuh makna—pelukan
yang menyimpan rindu, haru, dan syukur yang tak terucap.
Lebaran bukan hanya tentang hidangan
khas di atas meja atau baju baru yang dikenakan. Lebaran adalah tentang pulang,
pulang ke akar, ke rumah, ke keluarga. Dan dalam momen singkat namun berharga
itu, semua luka rindu terobati, semua penat karena jarak terhapus oleh senyuman
dan pelukan orang-orang tercinta. Ketika takbir pagi itu berkumandang, bukan
hanya langit yang mendengar. Tapi juga hati yang telah lama merindukan, yang
akhirnya bisa merasakan kembali: betapa indahnya menjadi bagian dari kampung
ini, betapa hangatnya pelukannya, dan betapa mulianya kebersamaan di hari yang
fitri.
Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.
Dari perantau yang akhirnya pulang, ke kampung yang tak
pernah berhenti memanggil.
Penulis : Muhammad Adith Askandar

!doctype>
0 Komentar